Rabu, 15 Juni 2022

Takoyaki

 


Takoyaki (bahasa Jepang: たこ焼き) adalah makanan asal daerah Kansai di Jepang. berbentuk bola-bola kecil dengan diameter 3-5cm yang dibuat dari adonan tepung terigu diisi potongan gurita di dalamnya.

Ciri Khas

Takoyaki biasanya dijual sebagai jajanan di pinggir jalan untuk dinikmati sebagai camilan. Takoyaki biasa dijual dalam bentuk set dengan 1 set berisi 5, 6, 8 hingga 10 buah takoyaki yang disajikan di atas lembaran plastik berbentuk perahu atau dimasukkan ke dalam kemasan plastik transparan untuk dibawa pulang. Sewaktu ada matsuri sering dijumpai kios penjual takoyaki sebesar bola tenis (jambotako) yang menjual takoyaki secara satuan.

Takoyaki dimakan dengan menggunakan tusuk gigi, tetapi di Tokyo dimakan dengan menggunakan sumpit sekali pakai. Penjual takoyaki selalu memberikan 2 batang tusuk gigi untuk satu orang, karena takoyaki yang ditusuk dengan sebatang tusuk gigi bisa berputar-putar sewaktu diangkat dan jatuh sebelum masuk ke mulut.

Pada mulanya, takoyaki dijual dengan menggunakan tusukan bambu dengan isi 3 buah per tusuk. Di sekitar tahun 2000 masih bisa dijumpai sebuah kios yang menjual takoyaki dengan tusukan bambu di Prefektur Aichi, tetapi sekarang sudah tutup dengan alasan usia lanjut penjualnya.

Harga takoyaki bisa berbeda-beda bergantung wilayah dan kios yang menjual. Satu set berisi 5-8 buah takoyaki biasa dihargai antara 200 yen hingga 400 yen. Di daerah Kansai, harga bisa menjadi lebih murah akibat persaingan ketat di antara penjual.

Di kota Osaka, kios penjual takoyaki bisa dengan mudah dijumpai di mana-mana. Penjual dengan kios yang agak luas kadang kala menyediakan ruangan khusus untuk makan takoyaki, tetapi takoyaki sering dinikmati secara santai sambil berdiri, berjongkok atau dimakan sambil berjalan. Pembeli bisa menonton penjual yang sedang membolak-balik takoyaki agar bulat seperti bola sambil menunggu pesanannya jadi. Takoyaki sebaiknya dinikmati di tempat dalam keadaan panas-panas, walaupun pembeli sering meminta dibungkus untuk dibawa pulang.

Takoyaki merupakan jajanan populer yang dijual kios pasar kaget (yatai) sewaktu hatsumode (kunjungan pertama ke kuil di awal tahun baru) dan berbagai matshuri. Toko makanan ringan tradisional (dagashiya) yang merupakan tempat jajan anak sekolah sering menjual takoyaki dengan harga yang lebih murah.

Kios takoyaki bisa dijumpai di toko swalayan di kota-kota besar di Jepang. Di toko swalayan bisa dijumpai takoyaki sebagai makanan beku yang tinggal dipanaskan dengan oven microwave.

Setiap rumah di Osaka biasanya dimiliki wajan (loyang) untuk membuat sendiri takoyaki di rumah. Sebagai makanan kebanggaan yang sering dijadikan lauk untuk makan nasi putih, penduduk Osaka biasanya baik perempuan maupun laki-laki tahu cara membuat dan bisa memanggang takoyaki. Bahan-bahan untuk membuat takoyaki tersedia secara lengkap di toko. Wajan takoyaki merupakan salah satu perabot rumah tangga yang harus dihadiahkan orang tua kepada anak perempuan yang menjadi pengantin.

Bahan rahasia (seperti baking powder) atau asinan jahe berwarna merah (benishōga) sering pula dicampurkan ke dalam adonan. Penjual yang senang berkreasi kadang kala menambahkan keju atau konnyaku ke dalam takoyaki.

Saus yang dipakai biasanya adalah saus okonimiyaki walaupun ada juga saus khusus untuk takoyaki yang rasanya tidak jauh berbeda dengan saus okonomiyaki.

Takoyaki dengan isi yang disukai penduduk setempat (kadang-kadang tanpa gurita) berusaha diperkenalkan di negara-negara yang penduduknya merasa ngeri memakan gurita.

Sejarah

Di zaman Taisho sudah dijumpai kios pasar kaget yang menjual Choboyaki berupa goreng tepung terigu dengan isi konnyaku yang merupakan cikal bakal takoyaki. Choboyaki berkembang menjadi Rajioyaki yang berisi urat sapi dan bagian daging murah yang lain. Penganan disebut "rajioyaki" karena bentuknya yang bulat-bulat seperti tombol radio transistor pada waktu itu.

Pada tahun 1933, kios takoyaki bernama Aizuya menjual Nikuyaki yang merupakan variasi rajioyaki yang diisi dengan daging sapi. Pada tahun 1935, kios Aizuya yang mengambil ide dari Akashiyaki mulai mengisikan gurita dan telur ke dalam rajioyaki dan menyebutnya sebagai takoyaki.

Di sekitar tahun 1965-an, kios pasar kaget yang menjual takoyaki mulai bermunculan di daerah Kanto. Di pertengahan dekade 1990-an, Tokyo mengalami demam takoyaki yang dimulai oleh kios takoyaki bernama Kyōtako di daerah Shibuya. Di daerah Kyushu, perusahaan bernama Hatchandō menjual takoyaki secara keliling tetapi sekarang berubah menjadi perusahaan penjual takoyaki sebagai makanan beku.

Sekitar tahun 2000, kios bernama Gindako yang berasal dari kawasan pasar Tsukiji, Tokyo sukses dengan sejumlah toko cabang yang dibuka di seluruh Jepang hingga bisa membuat makanan ringan dengan rasa takoyaki.

Tempura



 Tempura (天ぷら、天麩羅、天婦羅, daging gorengan) atau tenpura adalah makanan Jepang berupa makanan laut atau sayur-sayuran yang dicelup ke dalam adonan berupa tepung terigu dan kuning telur yang diencerkan dengan air bersuhu dingin lalu digoreng dengan minyak goreng yang banyak hingga berwarna kuning muda.

Tempura juga berarti cara menggoreng yang berbeda dengan furai (istilah bahasa Jepang untuk deep fry). Bahan makanan yang digoreng secara tempura dicelup ke dalam adonan tempura, sedangkan bahan makanan yang digoreng secara deep fry dibungkus secara berurutan dengan tepung terigu, kocokan telur, dan tepung panir.

Minyak goreng yang digunakan untuk menggoreng tempura sebaiknya minyak goreng  yang bersih dan belum digunakan untuk menggoreng bahan makanan lain. Di restoran kelas atas yang menyediakan menu tempura, campuran minyak wijen yang harganya mahal dan minyak biji kapas sering dipakai untuk menggoreng tempura. Minyak bunga kamelia yang digunakan pegulat sumo sebagai minyak rambut juga digunakan di beberapa restoran mahal untuk menggoreng tempura.

Minyak goreng yang dipakai untuk menggoreng tempura sering disebut minyak tempura (天ぷら油 tempura abura) yang merupakan sebutan untuk berbagai jenis minyak goreng seperti minyak kanola, minyak selada, atau minyak bunga matahari.


Adonan

Dalam bahasa Jepang, adonan tempura disebut koromo (, baju) karena seperti "baju" yang membungkus bahan makanan. Adonan tempura dibuat dari campuran tepung terigu berprotein rendah yang sudah didinginkan lebih dulu, telur ayam yang dikocok lepas, dan air dingin (air es). Semua bahan diaduk secara asal saja dengan sumpit sehingga masih tersisa gumpalan-gumpalan tepung. Tepung terigu yang diaduk-aduk sampai bercampur rata justru membuat adonan keras dan hasil gorengan tidak bagus.

Tempura yang dibuat di rumah biasanya menggunakan tepung tempura yang sudah merupakan campuran tepung terigu dan bubuk telur. Tepung tempura mengandung bahan-bahan kimia seperti soda kue dan bahan pengembang (baking powder) agar hasil gorengan menjadi garing dan tidak keras.

Semua jenis bahan makanan bisa dijadikan tempura. Pada umumnya suhu minyak sewaktu menggoreng adalah sekitar 160℃ sampai 170℃ dengan waktu menggoreng yang singkat. Suhu yang agak rendah digunakan sewaktu menggoreng sayur-sayuran dan makanan laut seperti kerang yang mudah menjadi keras terkena suhu tinggi. Suhu tinggi digunakan untuk menggoreng udang, cumi-cumi dan ikan sampai adonan tempura berubah warna.

Irisan daging ayam, berbagai jenis daun dari tanaman liar yang dapat dimakan, dan dan bahan makanan produksi pabrik seperti chikuwa juga sering dijadikan tempura. Irisan tipis daging babi yang digoreng secara tempura disebut tonpura.


Penyajian

Tempura biasanya dinikmati dengan saus yang disebut tentsuyu yang ditambah parutan lobak atau parutan jahe sebagai penyedap. Tentsuyu dibuat dari campuran katsuobushi, air, mirin dan kecap aisn yang dimasak sampai mendidih untuk menguapkan alkohol lalu disaring. Tempura juga sering dinikmati bersama air perasan jeruk, garam dapur, atau campuran garam dapur dengan salah satu bahan sebagai berikut: matcha, bubuk kari, bubuk kulit jeruk yuzu, atau bubuk andaliman. Di beberapa daerah di Jepang, tempura juga dimakan bersama kecap asin atau kecap Inggris (Worcester sauce).

Tempura sering digunakan sebagai lauk yang diletakkan di atas makanan jenis lain. Tempura donburi (dikenal juga sebagai Tendon) adalah nasi putih di dalam mangkuk dengan tempura di atasnya sebelum disiram saus kental (tare) yang dibuat dari campuran kecap asin, gula, dan mirin. Masakan Jepang seperti udon dan soba yang di atasnya diletakkan tempura disebut tempura udon dan tempura soba.

Kakiage adalah salah satu jenis tempura yang merupakan campuran berbagai jenis sayur seperti bawang bombay, daun mitsuba, dan wortel yang digoreng bersama potongan udang atau udang berukuran kecil. Tempura chazuke (tencha) adalah sebutan untuk makanan Jepang berupa nasi putih yang diatasnya diletakkan kakiage, diberi sedikit wasabi kemudian disiram dashi dan air teh hijau


Sejarah

Tempura bukan makanan asli Jepang. Menurut catatan yang bisa dipercaya, cara menggoreng dengan mencelup makanan dengan adonan tepung diperkenalkan oleh misionaris Katolik dari Portugis pada abad ke-16. Ada pendapat yang mengatakan kata "Tempura" berasal dari tradisi misionaris Portugis memakan makanan laut pada masa Pra-Paskah yang dalam bahasa Latin disebut ad tempora quadragesimae. Penjelasan lain mengatakan kata "tempura" berasal dari bahasa Portugis temporas (masa suci), tempero (bumbu dapur), templo (kuil), atau tempora yang berasal dari bahasa Spanyol atau bahasa Italia

Pada zaman Edo, tempura merupakan makanan rakyat yang dijual pedagang kaki lima dengan harga terjangkau. Pada zaman Edo, bahan makanan yang digoreng menjadi tempura adalah sayuran, ubi jalar, umbi teratai dan udang yang ditangkap dari perairan di sekitar Edo. Tempura yang digoreng dengan minyak goreng yang harganya mahal seperti minyak wijen dan minyak biji kapas kemudian menjadi menu yang disajikan restoran mahal di Tokyo dan Kyoto.

Pada awalnya, tempura adalah sebutan untuk masakan daerah Kyushu dan Okinawa yang digoreng dengan minyak goreng yang didatangkan dari luar Jepang. Sejak zaman dulu sebenarnya di Jepang sudah dikenal gorengan dari adonan ikan yang dilumatkan bercampur tepung yang disebut Satsuma-age. Tempura berupa gorengan makanan laut dan sayur-sayuran seperti yang dikenal sekarang ini baru dimulai sejak zaman Edo.

Tempura yang hanya terdiri dari sayur-sayuran disebut shōjin-age (精進揚げ). Pada zaman Edo dikenal 2 jenis tempura berdasarkan bagian telur yang dipakai untuk adonan tepung, yaitu kinpura (kuning telur saja) dan ginpura (putih telur saja). Sebagian kecil penjual tempura yang kuat memegang tradisi masih mempertahankan kedua jenis tempura ini.

Masakan Tionghoa juga mengenal sejenis tempura yang ditulis menggunakan aksara Tionghpa 軟炸 di depan nama bahan makanan, misalnya 軟炸蝦仁 untuk tempura udang.

Martabak Telur

Martabak telur merupakan panganan dengan rasa gurih. Sayur, daging, dan berbagai bumbu lainnya digabung menjadi satu dalam sebuah kulit adonan padat yang ditipiskan secukupnya, kemudian dilipat, kemudian digoreng hingga matang. Panganan ini cukup digemari di Indonesia dan banyak dijual mulai dari tempat makan hingga di gerobak pinggir jalan.

Sejarah

Kisah penciptaan martabak telur konon berasal dari persahabatan seorang pemuda dari Semarang, Jawa Tengah, yang berdagang dan bertemu dengan teman baru dari India pada 1930. Teman yang berasal dari India tersebut sangat pintar memasak, salah satunya adalah martabak telur.

Panganan tersebut dimasak dari terigu. Hingga kemudian mereka membuat sebuah martabak telur versi Indonesia. Tentu saja isinya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia pula –terutama Jawa.

Karena itulah, martabak telur banyak berisi sayur-sayuran selain diisi daging.

Setelah keduanya merasa panganan itu cukup baik untuk diperkenalkan kepada orang lain, martabak telur kemudian dihidangkan di acara-acara tertentu berbagai kota. Misalnya pasar malam atau acara rakyat lainnya.

Kota yang mereka datangi pun beragam, mulai dari Yogyakarta, hingga daerah-daerah lain yang tak jauh dari Semarang.

Di Indonesia, harga martabak telur beragam. Dari Rp 25.000,- hingga Rp 40.000,- atau bahkan lebih tergantung berapa jumlah telur yang digunakan.

Kini, martabak telur termasuk salah satu jenis makanan Indonesia yang cukup digemari di negara lain. Setara dengan rendang, martabak telur termasuk makanan yang cukup populer di luar Indonesia.



Selasa, 14 Juni 2022

Tom Yum Goong

 


Tom yum goong atau tom yam merupakan salah satu kuliner Thailand yang terkenal.

Nama tom yam berasal  dari kata "tom" yang berarti mendidih dan "yum" yang berarti sayuran. Sehingga tom yum artinya sayuran rebus.

Sekilas, tom yam nampak sama dengan semangkuk kuah kari. Namun, bumbu yang digunakan tidak sama.

Ciri khas tom yam ialah masakan berkuah ini dihidangkan panas dan rasanya asam segar karena penggunaan sejumlah bumbu.

Bumbu utama tom yam adalah serai, lengkuas, daun jeruk purut, dan air perasan jeruk nipis. Bumbu tersebut juga digunakan pada beberapa masakan khas Thailand lainnya.

Biasanya tom yam disajikan sebagai hidangan pembuka. Terdapat berbagai versi hidangan tom yam seperti tom yum gai (campuran ayam) dan tom yum talay (campuran makanan laut).

Kuah tom yam ada yang bening dan pekat. Bumbu utama keduanya sama tetapi tom yam kuah pekat ditambahkan susu evaporasi atau santan.

Tom yam dianggap sebagai makanan pokok di hampir setiap rumah di Thailand. Tidak memandang status, hampir semua kalangan memasak tom yam sebagai makanan sehari-hari.

Bahan yang digunakan untuk memasak tom yam sangat mudah ditemukan. Beberapa di antaranya adalah udang, tomat, jamur, dan daun ketumbar.

Selain bahan tom yam mudah ditemukan, hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk memasak tom yam.



Corn Dog

 


Corn Dog pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat oleh para pendatang asal Jerman. Hak paten makanan ini didaftarkan pada tahun 1927 dan disetujui dua tahun setelahnya. Namun, Corn Dog tak lantas populer di kalangan masyarakat AS ketika itu.

Beberapa penjual makanan mengklaim berkontribusi dalam memviralkan Corn Dog, termasuk di antaranya adalah Carl dan Neil Fletcher yang menjual jajanan ini sebagai “Corny Dog” di festival tahunan Texas antara tahun 1938 hingga 1942. Selain itu, ada pula Pronto Pup di festival Minnesota yang mengaku sebagai penemu Corn Dog di tahun 1941.

Pada dasarnya, Corn Dog adalah sosis yang dilapisi adonan tepung jagung dan disajikan dengan semacam stick. Itulah mengapa, jajanan ini juga sering disebut sebagai Hot Dog on a stick.

Di AS sendiri, Corn Dog saat ini sudah menjadi makanan ringan yang sangat merakyat dan kerap dijajakan di vendor pinggir jalan ataupun di acara-acara festival. Salah satu variasinya yang terkenal adalah Corn Dog isi keju yang menggunakan melted cheese di antara sosis dan adonan tepung jagung.

Sama seperti banyak unsur kebudayaan lain, jajanan Corn Dog yang berasal dari AS juga diadopsi di Korea Selatan dan sangat populer di sana. Akan tetapi, Corn Dog Korea memiliki ciri khasnya sendiri karena sosis yang dimasak tidak dilumuri oleh tepung jagung.

Alih-alih, para penjaja makanan di Negeri Ginseng tersebut menggunakan adonan yang terbuat dari tepung dan air. Selain itu, mereka juga menggunakan topping seperti kentang, mie ramen, atau bahan lainnya.

Kesamaan Korean Corn Dog dan Corn Dog dari AS terletak pada cara penyajiannya yang sama-sama menggunakan stick dan saus atau mustard sebagai pelengkap opsional.

Menariknya, orang Korsel lebih mengenal Corn Dog sebagai Hot Dog, sehingga berisiko membingungkan turis asing yang melancong ke sana jika ingin memesan Hot Dog yang asli.


Terang Bulan/Martabak Manis

 


Kue terang bulan (juga dikenal sebagai martabak manis di beberapa daerah atau apam balik di Semenanjung Malaka) adalah kudapan sejenis panekuk yang biasa dijajakan di pinggir jalan di seluruh Indonesia, Malaysia, Brunei dan Singapura.

Berbeda dengan Martabak (atau Moortaba) yang berasal dari (dipengaruhi oleh budaya) India, awal muasal penamaan Martabak Manis ini berawal ketika di tahun 1950 seseorang bernama Hioe Kiew Sem yang berasal dari daerah Jebus, Pulau Bangka merantau untuk mengadu nasib ke kota Bandung. Apabila pagi sampai sore mencoba berdagang apa saja, di sore harinya menjajakan kue-kue di depan rumah kontrakannya di Jalan Naripan, Bandung buatan istrinya (Tjo Sin Moy). Salah satunya adalah Hok Lo Pan, dalam bahasa mandarin disebut Fu Lau Pan (福佬粄) yang bermakna kue etnik/masyarakat Fu (Hakka-Hoklo).Ternyata kue ini cukup laris dan diterima baik oleh masyarakat kota Bandung pada waktu itu hingga selanjutnya ia fokus berjualan kue ini saja dengan memasaknya apabila ada yang datang membeli (Freshly cook). Ini berlanjut hingga ia menyewa lapak di Pasar Malam Jalan Cikapundung Barat di depan kantor PLN, dekat Alun-alun Bandung di sebelah lapak yang terlebih dahulu hadir dan laris, yaitu Martabak yang berasal dari India. Guna memudahkan pemasaran maka kedua pedagang ini bersepakat untuk menamai Martabak Asin dan yang lainnya Martabak Manis. Strategi ini semakin membuat kue ini semakin laris dan hingga kini penjual Martabak banyak yang menjual kedua versi tersebut jadinya. Kesuksesannya Tn. Hioe Kiew Sem ini membuatnya mengajak saudara-saudara, kerabat dan teman-temannya di Pulau Bangka untuk merantau ke Jawa Barat untuk berjualan Martabak Manis ini ke kota-kota lain sekitarnya seperti Jakarta, Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi dan lain-lain. Kota pertama diluar Jawa Barat yang dibuka salah seorang temannya adalah Kota Semarang. Itulah sebabnya di Jawa Tengah, kue ini disebut Kue Bandung dimana asal-muasal kesuksesannya tersebut.

Di Jawa Timur dan Indonesia bagian Tengah dan Timur, orang menamakannya Kue Bulan atau Terang Bulan, karena bentuknya yang bulat seperti bulan dan juga karen biasanya dijual kala malam dimana bulan muncul. Oleh karena itu, penggemar kue terang bulan dari daerah tersebut merasa bingung mengapa kue ini dinamakan "martabak" karena sama sekali berbeda dengan penganan lain yang juga bernama Martabak. Namun bagi daerah yang terbiasa menamakannya Martabak Manis, maka penganan martabak terbagi dua menjadi Martabak Manis dan Martabak Asin

Nama panganan ini bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Di Kota Semarang, kue ini dikenal dengan sebutan Kue Bandung. Hal ini disebabkan kue tersebut dibuat oleh orang Bangka yang menetap di Semarang, yaitu keluarga Cen, generasi ke-4 dari leluhur yang bernama Cen Khian Sam yang merupakan teman dari Hioe Kiew Sem yang memulai dahulu berjualan dan meraup kesuksesan di Bandung. Keluarga Cen ini berjualan Martabak Manis di Jalan Gajah Mada.

Di Malaysia penganan ini dinamakan Apam BalikKek atau Martabak Terang BulanMartabak BangkaKek PinangKek Bandung, atau Martabak Jepun. Di Pontianak makanan ini dinamakan Apam Pinang.

Di Indonesia, Martabak Manis mulai mengalami revolusi di pertengahan tahun 2011 dengan munculnya variasi jenis Martabak Pizza. Martabak Pizza adalah modifikasi dari Martabak konvensional yang umumnya disajikan dengan cara dilipat. Martabak Pizza disajikan dengan tidak dilipat, sehingga topingnya terlihat lebih menonjol dan menarik.

Adonan kulitnya terbuat dari campuran tepung terigu, soda kue, telur ayam, santan, air dan ragi yang dipanggang di atas penggorengan besi tebal khusus hingga adonan kue menjadi matang dan bersarang. Sebagai pengisi biasanya diberikan taburan gula butir, coklat butir(meses, muisjes), dengan biji wijen dan kacang tanag yang dicacah, atau parutan keju, yang disiram susu kental manis, dan diolesi mentega dan margarin.

Gudeg

Gudeg adalah hidangan khas Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan. Perlu waktu berjam-jam untuk membuat hidangan ini. Warna coklat biasanya dihasilkan oleh daun jati yang dimasak bersamaan. Gudeg biasanya dimakan dengan nasi dan disajikan dengan kuah santan kental (areh), ayam kampung, telur, tempe, tahu dan sambal goreng krecek.

Gudeg sangat populer di Jawa, hidangan ini merupakan hidangan populer baik sebagai masakan rumahan maupun hidangan jalanan. Gudeg juga diproduksi secara industri sebagai makanan kaleng. Gudeg juga bisa ditemui di luar Indonesia, khususnya di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura

Gudeg dibuat dari buah nangka yang tumbuh di banyak pulau di Kepulauan Melayu, khususnya di Jawa, dan merupakan tanaman pangan yang cukup penting. Sejumlah besar rempah-rempah dan bumbu tertentu digunakan dalam proses perebusan, rempah ini juga meningkatkan masa simpan gudeg.

Di Jawa Tengah, ada legenda yang mengaitkan asal usul Gudeg dengan berdirinya Kesultanan Mataram pada akhir abad ke-16. Dikisahkan bahwa pada saat itu pejuang yang membuka hutan untuk pembangunan ibu kota negara baru di wilayah Yogyakarta saat ini tidak mendapat pasokan makanan yang memadai. Sementara itu hanya pohon nangka dan kelapa yang tumbuh subur di hutan tersebut. Saat masih muda buah nangka keras, dan tidak dapat dimakan mentah, mereka pun merebus buah nangka muda dalam santan dan panci logam besar dan mengaduknya dengan papan kayu. Proses memasak seperti ini dalam bahasa jawa sehari-hari disebut hangudek (jw. Hangudek)—"mengaduk". Dari kata inilah menurut legenda, menjadi asal mula nama makanan yang ditemukan oleh prajurit Mataram tersebut, "Gudeg".

Gudeg dibuat dari daging buah nangka yang masih mentah. Berbeda dengan daging buah nangka matang, yang lembut, kuning cerah, berminyak dan rasanya sangat manis, nangka mentah memiliki konsistensi padat dan agak kering, bergetah, berwarna keputihan atau krem ​​​​ringan dan tidak bisa dimakan mentah. Setelah kulitnya dikupas, nangka muda dipotong kecil-kecil dan direbus terlebih dahulu dalam air mendidih sampai lunak. Setelah itu, potongan nangka dituangkan dengan santan - sering dicampur dengan air kelapa, dibumbui dengan bumbu tertentu dan direbus lama—biasanya selama 4-6 jam.

Warna gudeg dihasilkan terutama oleh bumbu rempah-rempah yang digunakan. Rempah-rempah ini juga memberikan cita rasa utama rasa gudeg, karena daging mentah nangka muda sebenarnya tidak memiliki rasa khusus. Gudeg hadir dalam berbagai warna, mulai dari hampir putih atau krem ​​muda hingga merah tua atau coklat. Variasi warna hidangan hidangan ini menjadi julukan jenis gudeg tersebut, gudeg putih dan gudeg merah. Variasi gudeg putih disiapkan dengan rempah-rempah yang tidak terlalu mengubah warna produk asli: lumbang,ketumbar, lengkuas, jahe, bawang merah, bawang putih dan lada hitam. Pada gudeg merah, rempah-rempah dan bumbu lain ditambahkan selain bumbu diatas, yang memberi warna lebih gelap pada bubur nangka yang dihasilkan. Pewarna merah biasanya dari daun jati dan Moringa oleifera, biasanya juga ditambahkan terasi, yang memberi nuansa warna merah-kecoklatan. Selain itu, di Indonesia modern, teh celup terkadang dimasukkan ke dalam hidangan selama proses perebusan untuk memberikan warna gelap dan rasa asam yang lebih pekat pada gudeg. Teh ini kemudian diangkat sesudah hidangan matang. Dalam semua jenis gudeg—baik gudeg kering dan basah, atau gudeg merah dan putih—biasanya ditambahkan gula aren, sebagai pemanis. Rasa manis inilah yang menjadi cita rasa khas gudeg.

Jika disajikan sendiri, gudeg dapat dianggap sebagai makanan vegetarian, karena hanya terdiri dari nangka mentah dan santan. Namun, gudeg biasanya disajikan dengan telur atau daging ayam. Gudeg sering kali disajikan dengan nasi putih dan ayam, baik opor ayam atau ayam goreng, telur pindang, opor telur atau telur rebus biasa, tahu dan/atau tempe, serta sambel goreng krecek (rebusan yang terbuat dari kulit sapi renyah).

Gudeg dapat dikemas ke dalam besek (kotak yang terbuat dari bambu) atau kendil (guci tanah liat), atau kalengan. Gudeg kalengan bisa bertahan hingga satu tahun, meski rasanya tidak sebagus yang baru dimasak.

Warung dan restoran yang menyajikan gudeg dapat ditemukan di seluruh kota di Indonesia, seperti Jabodetabek. Gudeg adalah hidangan populer di restoran Jawa, dan dapat ditemukan di negara tetangga, seperti Singapura.

Spring Rolls

Salah satu sajian yang merupakan bentuk pengaruh dari budaya kuliner Nusantara dengan budaya asing adalah lumpia.

Sajian lumpia yang terkenal sebagai oleh-oleh asli dari Semarang, Jawa Tengah disebut berasal dari sajian khas Tiongkok yang dikenal dengan spring roll.

Spring roll disebut berasal dari Tiongkok dan biasanya disantap untuk mengawali hari pertama di musim semi. Sajian ini menyebar ke berbagai negara dan mendorong munculnya berbagai varian khas dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara, seperti di Indonesia, Malaysia, Filiphina, hingga Vietnam.

Kebiasaan menyantap spring roll ini sudah dikenal sejak masa Dinasti Jin (266-420 SM), bentuk awalnya enggak seperti lumpia yang kita kenal sekarang. Dulu spring roll berbentuk seperti kue atau martabak sehingga populer juga disebut sebagai spring cake. Spring roll hingga saat merupakan jenis jajanan jalanan yang mudah ditemui di berbagai tempat seperti pasar pagi atau di pasar malam, terutama di Taiwan, Tiongkok.

Sajian ini secara tradisional dikonsumsi ketika perayaan Qing Ming, dan merupakan kue tipis yang diisi dengan beragam jenis sayuran.

Perkembangan cita rasa dari sajian ini mulai makin bervariasi sejak masa pemerintahan Dinasti Tang (618-907 SM).

Kala itu spring rolls mulai banyak digunakan sebagai persembahan untuk memuja para leluhur atau dipersiapkan sebagai bekal perjalanan untuk masyarakat Minnan yang hendak bepergian.

Pada masa itulah rempah seperti bawang-bawangan mulai banyak digunakan dan penyajiannya pun mulai dibuat untuk dinikmati panas.

Beragam Varian Spring Rolls

Di Indonesia, spring roll lebih akrab disebut sebagai lumpia. Panganan ini populer sebagai oleh-oleh khas kota Semarang.

Lumpia goreng atau lumpia basah khas semarang memiliki isian rebung dan tambahan udang atau telur, dinikmati bersama saus bawang putih, acar timun dan tunas daun bawang.

Sedangkan tren lumpia basah dari bandung merupakan sajian lumpia yang dibuat dadakan tanpa digulung, dengan isian berupa telur, tauge, dan bengkuang, yang bisa ditambah juga dengan mie instan atau kwetiau goreng yang dimasak ketika ada yang memesannya.

Sedangkan lumpia basah khas Malaysia atau Singapura disebut dengan popiah yang menurut catatan sejarah dibawa oleh orang-orang Fujian, Tiongkok datang ke tanah Melayu.

Popiah bisa disebut sebagai resep peranakan yang hingga kini banyak dijual sebagai jajanan kaki lima. Resep aslinya yang dibawa dari Tiongkok menggunakan isian daging babi.

Resep itu lalu disesuaikan dengan menggantinya menjadi daging udang supaya lebih ramah untuk masyarakat muslim yang tinggal di Malaysia.

Di Filipina, lumpia masing menggunakan isian daging babi yang dicampurkan dengan daging udang.

Varian lumpia basah yang dikenal masyarakat setempat sebagai Lumpiang disajikan dengan bumbu siraman manis dan kacang cacah di bagian atasnya.

Sedangkan lumpiang ubod diisi dengan rebung dan lumpiang hubad disajikan tanpa digulung.

Sajian spring roll di vietnam cukup berbeda dengan sajian lumpia yang ada di beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

Biasanya spring roll atau lumpia dibungkus menggunakan kulit yang terbuat dari tepung terigu putih.

Tapi, sajian spring roll di vietnam yang dikenal dengan gỏi cuốn (summer roll) dan cha gio (fried spring roll) ini dibungkus menggunakan kertas nasi atau rice paper.

Rice paper dibasahi terlebih dulu sebelum digunakan untuk membungkus sayur-sayuran mentah dan daging udang yang sudah direbus sampai matang.

Setelah digulung spring roll akan disajikan dengan saus kacang dan dalam kondisi yang sudah dingin.

Sedangkan, jika ingin menikmati kerenyahan atau versi gorengnya maka spring roll ini bisa digoreng sebagai Cha Gio.

Last Piece Of Cake

  Last Piece Of Cake Last Piece of Cake adalah menu dessert dari Cuca Restoran. Seperti namanya, menu ini dihidangkan dengan potongan terakh...